PROTEKSI DIRI DARI SERANGAN AIDS
Kembali ke Berita

PROTEKSI DIRI DARI SERANGAN AIDS

Admin

PROTEKSI DIRI DARI SERANGAN AIDS

Oleh :

Arlin Adam

Ketua Dewan Pembina : Yayasan Mitra Husada Sul-Sel

Kasus HIV dan AIDS di Provinsi Sulawesi Selatan dalam 10 tahun terakhir ini mengalami peningkatan jumlah yang sangat signifikan. Dari jumlah 14 kasus pada tahun 2003 melonjak naik dengan kecepatan penuh menjadi 2.889 kasus per September 2008 dan naik secara drastis pada pertengahan tahun 2014 sebanyak 8.204 kasus (Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel). Parahnya, jumlah tersebut dikontribusikan dari hampir seluruh kabupaten/kota Provinsi Sulawesi Selatan. Jumlah terbesar dilaporkan di Kota Makassar sekitar 3000-an kasus HIV dan AIDS. Malah menurut estimasi nasional tahun 2006, saat ini pada tahun 2014, pengidap HIV dan AIDS di Sulsel sesungguhnya telah mencapai angka 10.610 orang.

Sungguh angka yang sangat fantastis dan mencengangkan sekaligus mengkhawatirkan, tanpa penanggulangan yang berarti, pelan tapi pasti kita berhadapan dengan ancaman hilangnya generasi karena serangan HIV. Kekhawatiran kita masih terus berlanjut saat kita perhatikan pergeseran pola serangan HIV yang sebelumnya didominasi oleh populasi kunci seperti pekerja seks dan pelanggannya dan pengguna nafsa suntik (penasun), sekarang ini sudah mulai menyerang populasi umum. Kesimpulan ini berangkat dari fakta empiris ditemukannya bayi dan anak mengidap HIV positif serta adanya spesimen darah dari kantong darah tercemari HIV positif. Secara epidemiologi, pola serangan seperti ini termasuk dalam kategori generalize epidemic level. Pada tingkat epidemi ini, kemungkinan kita akan mengalami fenomena kodok rebus dimana tanpa sadar kita menuai panen HIV sebab metode penyebaran HIV ke orang lain terjadi secara diam-diam (silent transmission).

Salah satu upaya penanggulangan yang mulai dikembangkan sebagai pendekatan dalam mencegah dan membatasi serangan HIV adalah melalui pelayanan voluntary, concelling, and testing yang dikenal dengan singkatan VCT. Metode ini diadopsi oleh pemerintah Indonesia dan NGO dari pengalaman negara-negara yang sudah berhasil menekan laju kecepatan penularan HIV seperti Thailand, Philipina, dan Australia termasuk negara-negara maju lainnya. Sekalipun, metode ini produk dari negara lain, namun operasionalnya tentu saja mempertimbangkan nilai dan norma serta kebutuhan masyarakat Indonesia, khususnya di Provinsi Sulawesi Selatan.

Terminologi voluntary (kesukarelaan) menandakan penghargaan yang tinggi terhadap harkat dan martabat manusia yang mengedepankan prinsip kebebasan individu untuk menentukan pilihan dalam melakukan suatu tindakan. Dengan prinsip ini, VCT memiliki kekuatan untuk membangun kesadaran baru bagi mereka yang mempunyai perilaku beresiko seperti melakukan hubungan seks ganti-ganti pasangan tanpa alat pelindung dan menyuntik bersama untuk pemakaian narkoba untuk menerapkan perilaku baru yang lebih aman. Councelling (konseling) menandakan adanya proses transformasi informasi dari konselor kepada klien. Proses ini akan bermanfaat dalam meningkatkan pemahaman klien terhadap seluk-beluk HIV dan AIDS yang tentu saja akan menjadi predisposisi berkembangnya sikap dan tindakan yang positif. Sementara istilah testing (tes HIV) bermakna perlakukan berupa tes untuk mengetahui status HIV seseorang sebagai starting point dalam mengembangkan upaya tindak lanjut, apakah dalam bentuk pengobatan, dukungan, dan perawatan atau dalam bentuk pendekatan komunikasi perubahan perilaku.

Penjelasan makna peristilahan VCT di atas menggambarkan pentingnya VCT sebagai suatu pilihan dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS. Setidaknya ada tiga manfaat utama dari metode ini yaitu; (1) peningkatan perilaku tidak beresiko, (2) pencegahan segera, (3) peningkatan kualitas hidup ODHA (orang yang hidup dengan HIV dan AIDS).

Peningkatan perilaku tidak beresiko

Sifat kerelaan individu dan penerapan komunikasi konseling pada metode VCT merupakan karakteristik belajar yang sangat efektif dalam konstruksi perilaku seseorang. Kesadaran yang timbul merupakan kekuatan awal bagi seseorang untuk menerima informasi secara efektif. Apalagi dengan teknik konseling, seseorang dapat mengembangkan proses komunikasi yang mendalam antara konselor dan klien tanpa ragu akan kerahasiaan, sebab aspek kerahasiaan merupakan bagian dari etika profesi konselor. Dengan demikian, proses konstruksi pengetahuan akan lebih cepat dan mudah serta ketahanan informasinyapun akan lebih lama.

Dalam proses VCT, seseorang akan mendapatkan pengetahuan penting seputar HIV melalui teknik konseling sebelum dan setelah tes. Informasi penting pada fase konseling sebelum tes (pre-test) adalah informasi dasar HIV dan AIDS seperti apa itu HIV dan AIDS, cara penularan, dan cara pencegahan. Selain itu, yang terpenting adalah konselor akan menginformasikan bagaimana perilaku seseorang dapat meningkatkan atau menurunkan resiko penularan HIV. Sedangkan penekanan informasi pada fase konseling setelah tes (post-test) adalah informasi tentang cara menangani HIV bagi yang dinyatakan positif dan bagi yang statusnya negatif, akan mendapatkan pemahaman tentang bagaimana memodifikasi perilaku agar tetap aman dari penularan. Dampak komunikasi ini akan lebih jauh lagi menyentuh ranah sikap berupa kesediaan untuk melindungi diri dan orang lain dari penularan HIV dan AIDS.

Perilaku protektif seseorang dapat diapresiasikan dalam bentuk kesediaan mengikuti tes HIV jika yang bersangkutan mengidentifikasi dirinya pernah melakukan perilaku beresiko penularan HIV. Apakah seseorang memutuskan atau tidak memutuskan mengikuti tes HIV, jelasnya sudah mempunyai modal psikologis berupa pengetahuan yang benar tentang HIV dan AIDS sebagai konsekuensi dari proses komunikasi interpersonal yang dikembangkan pada kegiatan konseling.

Cukup banyak bukti nyata yang memperlihatkan kekuatan domain pengetahuan (knowledge) dalam membentuk perilaku yang tidak beresiko. Mereka yang termasuk populasi beresiko kemungkinan mempertahankan perilaku beresikonya karena memang mereka berada pada level pemahaman yang minim. Walaupun, bertahannya perilaku seseorang tidak hanya karena intrinsik factor, akan tetapi juga dipengaruhi oleh ekstrinsik factor seperti lingkungan sosial, ekonomi, gaya hidup, bahkan mungkin politik. Dengan analisis ini, maka kegiatan penyuluhan sebaiknya terus menerus dilakukan, baik itu ditujukan untuk sasaran populasi kunci ataupun untuk sasaran masyarakat umum.

Pencegahan segera

Pencegahan segera berarti VCT dapat mendorong seseorang untuk mengembangkan perilaku baru yang aman dari penularan HIV positif khususnya bagi mereka yang meiliki faktor resiko. Dengan mengetahui status HIV, apakah hasilnya negatif atau positif, langkah antisipasi dapat segera direncanakan.

Bagi mereka yang didiagnosa HIV positif, mereka dapat merencanakan untuk melakukan tindakan-tindakan pengobatan, perawatan, dan dukungan. Dan yang paling mendasar, orang mempunyai motivasi positif untuk tidak menularkan HIV kepada orang lain. Dalam konteks fungsi seperti ini, VCT telah hadir sebagai metode pencegahan segera (early prevention) dalam mencegah meluasnya spektrum penularan HIV di masyarakat.

Bagi mereka yang dinyatakan HIV negatif, seseorang dapat merencanakan tes yang kedua kalinya dalam waktu 3 bulan kemudian, karena adanya masa yang disebut window period (periode jendela) yaitu antibodi HIV belum dapat dibaca oleh tes yang menggunakan cara ELISA. Dalam masa itu, seseorang sudah mulai mengelola perilakunya agar tidak tertular HIV.

Fungsi pencegahan dalam konteks HIV dapat dimaknai dalam dua stadium yaitu pencegahan untuk tidak tertular dan pencegahan untuk memperlambat kejadian AIDS. Stadium pertama difokuskan pada populasi yang belum tertular, sedangkan stadium kedua difokuskan pada populasi yang hidup dengan HIV. Substansi pencegahan segera adalah pencegahan stadium pertama yang bertujuan untuk menahan laju penularan dan mengurangi lahirnya infeksi baru.

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa penularan HIV melalui medium perilaku, maka untuk mencegahnya diperlukan rekayasa perilaku yang tepat. Melalui VCT, perilaku baru yang aman dari penularan dapat diwujudkan.

Kualitas hidup ODHA

Orang yang hidup dengan HIV dan AIDS (ODHA) tanpa pengobatan dan perawatan yang teratur kondisi fisiknya akan terus menurun sehingga usia harapan hidup yang dimiliki sangat singkat. Virus HIV yang menyerang sisitim kekebalan tubuh seseorang, memungkinkan seseorang untuk mendapatkan infeksi-infeksi tambahan karena melemahnya ketahanan tubuh (infeksi opportunistik). Infeksi inilah yang membuat kesakitan semakin parah yang berujung padakematian.

Bukan hanya faktor fisik saja, mentalitas ODHA mengalami kecenderungan yang menurun seiring dengan gejala stigmatisasi dan perilaku diskriminatif masyarakat terhadap mereka. Akumulasi masalah psikis dan sosial serta banyaknya infeksi tambahan yang dialami oleh ODHA membuat kualitas hidupnya sangat rendah. Diperlukan strategi dan langkah komprehensif untuk menghindari hal tersebut.

Dasar pengembangan strategi komprehensif itu hanya dapat direalisaskan jika status HIV seseorang dapat segera diketahui. VCT adalah jembatan untuk menuju penanganan komprehensif tersebut.

Mengetahui status HIV saat kondisi tubuh masih sehat bugar berpeluang besar dalam meningkatnya kualitas hidup. Tubuh ODHA akan tetap sehat bugar manakala menjalani pengobatan ARV secara teratur dengan tetap menghindari perilaku beresiko. Namun ODHA yang sudah berada dalam stadium terminal (stadium IV), upaya peningkatan kualitas hidup tidak terlalu banyak gunanya lagi.

ODHA yang mengetahui statusnya juga berpeluang untuk mendapatkan pendampingan dari lembaga-lembaga swadaya masyarakat peduli AIDS dalam rangka memberikan dukungan, baik itu dukungan psikis maupun dukungan ekonomi. Dua variabel pengaruh initerbukti juga mempercepa proses kematian ODHA. Karena itu, sangat penting untuk diterapkan sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas hidup ODHA.

Keberadaan layanan VCT sungguh-sungguh memberi manfaat yang banyak terhadap masyarakat. Dengan demikian, pelayanan VCT yang sudah tersedia baik di rumah sakit maupun di puskesmas disarankan agar diakses oleh masyarakat guna melindungi diri, keluarga, dan orang lain dari serangan HIV. Semoga daerah kita lepas dari pengintaian virus HIV, sehingga generasi kita dapat diselematkan dan menjadi generasi yang produktif. Wallahu alam bissawab.

Bagikan artikel ini: