
EPIDEMI AIDS DALAM RANAH KESEHATAN REPRODUKSI *
Oleh
Arlin Adam**
Pengantar
Pertama-tama Saya mengucapkan terima kasih kepada panitia KONAS IAKMI XIII di Makassar yang telah mempercayakan untuk menyampaikan gagasan sederhana tentang kesehatan reproduksi manusia sebagai salah satu topik diskusi pada pertemuan akbar ilmiah ini. Topik diskusi kita akan saya korelasikan dengan epidemi AIDS yang dalam dekade terakhir ini memperlihatkan perubahan pola penyakit baik perubahan modus penularan maupun perubahan populasi yang terdampak.
Elaborasi yang saya kemukakan pada tulisan ini merupakan hasil refleksi pengalaman penulis selama berinteraksi cukup panjang dengan isu HIV dan AIDS, khususnya di Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan. Pengambaran fakta-fakta lapangan selanjutnya akan dikonfirmasikan dengan sejumlah konsep-konsep sentral kespro, sehingga dapat menghasilkan solusi pemikiran atau way out yang memadai untuk perubahan wajah epidemi AIDS dan disaat yang bersamaan, tentu saja untuk peningkatan kualitas kesehatan reproduksi manusia.
Titik tolak pemikiran korelasional antara epidemi AIDS dan kesehatan reproduksi beranjak dari infografis tentang tren populasi yang tertular HIV terjadi secara dominan pada kelompok Ibu Rumah Tangga yaitu sekitar 65% pada akhir tahun 2015. Ketika ibu rumah tangga sudah mengidap HIV, maka lompatan penularan berikutnya adalah penularan kepada bayinya melalui mekanisme penularan transplacental/penularan vertikal.
Kelompok Ibu rumah tangga termasuk bayi adalah populasi umum, bukan populasi yang rentan atau terpapar yang karena pekerjaannya dan kegemarannya dapat tertular virus HIV. Dalam terminologi epidemiologi, serangan pada populasi umum merupakan tanda bahwa tingkatan epidemi masalah tersebut berada pada generalize epidemic level. Terjemahan sederhananya, HIV dan AIDS sudah berada disekitar kehidupan kita bersama. Tanpa upaya pencegahan dan penanggulangan yang terencana dan sistematis, epidemi ini akan menjadi mesin pembunuh massal.
Fakta Epidemi AIDS Menuju Paradigma Baru Kesehatan Reproduksi
Diskripsi fakta-fakta epidemi AIDS digambarkan dalam 3 (tiga) komponen dasar perubahan pola penyakit yaitu populasi yang beresiko, kecepatan penularan, dan luasnya dampak secara geogerafis. Anasir-anasir tersebut merupakan alat analisis untuk memahami konstruksi masalah AIDS yang dikaitkan dengan isu kesehatan reproduksi. Jalinan fakta AIDS dan isu kespro merupakan konsep sentral dalam menelaah fenomena kespro secara paradigmatik.
Pada konteks populasi terdampak, epidemi AIDS mengalami perubahan pola serangan; dari serangan yang terkonsentrasi pada populasi beresiko seperti pekerja seks dan pelanggannya serta para penyalahguna narkotika dengan suntikan ke populasi umum seperti ibu rumah tangga dan bayi serta anak-anak.
Pada awalnya, sirkulasi virus HIV hanya bergerak terfokus pada populasi yang memiliki faktor resiko seperti ganti-ganti pasangan seksual baik yang heteroseksual, biseksual, maupun yang homoseksual atau mereka yang sedang dalam pengaruh ketergantungan narkotika. Oleh karena seksualitas yang menjadi media penularan, maka praktek heteroseksual dan bi-seksual mendeterminasi lompatan virus ke Ibu Rumah Tangga. Mekanisme lompatan virus HIV ke ibu rumah tangga bermula dari pelanggan seksual yang umumnya laki-laki dan sudah berkeluarga. Mereka sering menggunakan jasa pekerja seks dalam pemenuhan kebutuhan biologisnya sebagai konsekuensi dari pekerjaan yang digelutinya.
Jenis pekerjaan yang dianggap beresiko adalah pekerjaan yang menuntut mobilitas yang tinggi seperti sopir truk, tenaga kerja yang berpindah-pindah, pedagang, dan pelaut. Para lelaki yang berada dalam profesi ini digolongkan sebagai lelaki beresiko tinggi (LBT) tertular dan menularkan HIV. Ringkasnya, insiden HIV pada kelompok populasi ibu rumah tangga dijembatani oleh laki-laki yang sering menggunakan jasa seksualitas dengan praktek sex-intercourse yang tidak aman.
Padahal sejatinya, penularan melalui transmisi seksual ini tidak harus terjadi jika LBT menerapkan perilaku seksual yang aman dengan memakai kondom secara konsisten. Eksplanasi ini dapat menjadi titik balik dalam menggeser wacana kesehatan reproduksi yang berpusat pada perempuan menjadi wacana yang melintas jauh pada dunia laki-laki. Bahwa kualitas kesehatan perempuan dipengaruhi secara langsung oleh kualitas kesehatan laki-laki. Proposisi ini dikuatkan oleh fakta penularan virus HIV pada ibu rumah tangga berasal dari suaminya.
Penjelasan-penjelasan kesehatan reproduksi yang dominan mengekplorasi tubuh perempuan perlu diimbangi secara proporsional dan komparatif dengan penjelasan logis tentang dunia kelaki-lakian. Relasi antara perempuan dan laki-laki pada landscap budaya patriarkhi sering memunculkan relasi yang timpang. Akibatnya, hak-hak reproduksi perempuan menjadi terabaikan akibat dominasi laki-laki dalam proses pengambilan keputusan keluarga. Keadilan gender adalah perkakas ilmiah yang dapat digunakan dalam membedah, menjelaskan, membandingkan, dan mengatasi persoalan kesehatan reproduksi.
Fakta epidemi AIDS selanjutnya adalah fenomena kecepatan penularan yang sungguh sangat mencengangkan. Insiden penularan HIV baru pada pertengahan tahun 2016 di Provinsi Sulsel reratanya antara 3-4 kasus dalam sehari. Penularan HIV baru tersebut terjadi disaat gencarnya upaya pencegahan dan penanggulangan dari berbagai pihak dan menyentuh area-area permasalahan secara komprehensif. Selain kecepatan penularan menurut kasus baru, percepatan epidemi ini dapat juga dilihat dari perubahan stadium penyakit dari stadium HIV asimptomatik menjadi stadium AIDS, begitupun juga waktu yang terjadi dari stadium AIDS menuju stadium terminal yang berakhir dengan kematian cepat.
Penyebab mendasar yang dapat dijelaskan dalam memahami gejala kecepatan penularan HIV adalah semakin maraknya infrastruktur modern yang menfasilitasi berkembangnya perilaku beresiko. Tempat hiburan malam bertumbuh secara linear dengan perkembangan dan kemajuan kota, informasi semakin mudah diakses dengan sejumlah peralatan teknologi, tampilan etalase pornografi dan pornoaksi di tempat-tempat umum, munculnya komunitas-komunitas hedonis, dan gaya hidup konsumtif. Negativitas ekstrinsik tersebut semakin diperparah oleh kondisi internalitas individu yang seakan-akan berorientasi pada perburuan pemenuhan hasrat tanpa batas, sehingga kehilangan sisi individualitas dan kemanusiaannya.
Keterkaitan kemajuan modernitas dengan epidemi AIDS menuntun kita dalam memahami secara rasional piramida kasus AIDS yang banyak terjadi pada kalangan populasi muda atau usia produktif. Kelompok populasi ini memiliki chemistry yang cocok dengan rangsangan-rangsangan modernitas yang ditawarkan dalam berbagai bentuk dan manifestasinya.
Jika dilakukan analisis trans-dimensional antara kecepatan penularan dengan insiden terbanyak pada kelompok populasi produktif, maka kita akan berhadapan dengan masalah re-generasi. Fenomena kematian di usia muda akan memutus rantai reproduksi manusia yang seharusnya terjadi secara siklik melalui ikatan perkawinan atau ikatan keluarga. Tidak ada lagi anak yang dilahirkan dalam suatu keluarga akibat salah satu atau kedua orangtuanya meninggal karena HIV dan AIDS. Pada titik tertentu, memunculkan fenomena loss-generation. Disinilah kesehatan reproduksi menemukan signifikansinya sebagai isu yang mengalami dampak akibat kejadian HIV dan AIDS.
Diskontinuitas kehidupan merupakan agenda jangka panjang bagi kesehatan reproduksi untuk diatasi dalam rangka menjamin berlangsungnya proses re-generasi manusia. Refleksi atas kasus HIV dan AIDS seyogianya mengantar kita untuk membaca kembali pendekatan-pendekatan kesehatan reproduksi yang pembahasannya lebih banyak seputar organ-organ tubuh manusia.
Manusia bukan hanya kumpulan organ-organ yang beroperasi secara deterministik/mekanistis, akan tetapi Ia merupakan individu yang hidup, tumbuh, dan berkembang secara sosial. Manusia tidak hanya mengalami dunia subyektif atau dunia obyektif, akan tetapi Ia juga mengalami dunia sosial. Cara pandang seperti ini akan mengubah paradigma kita dalam memotret fenomena kesehatan reproduksi.
Diskusi-diskusi kesehatan reproduksi mulai harus diperluas dengan memasukkan wacana tubuh sosial sebagai perlengkapan analisis. Hasil bacaan-bacaan kritis terhadap realitas, malah menempatkan kelainan organ reproduksi manusia terjadi akibat interaksi dan interelasi sosial dengan berbagai pranata, tatanan, dan struktur sosialnya. Artinya, akar masalah kesehatan reproduksi, justru berasal dari dimensi sosiologis-kultural-politik. Kekerasan dalam rumah tangga, kemiskinan, kebodohan, streotype, stigmatisasi, dan diskriminasi adalah fakta-fakta empiris yang memediasi semakin tingginya masalah kesehatan reproduksi.
Konstruksi nalar di atas memberikan implikasi metodologis dan praksis. Pada aras metodologis, kajian kesehatan reproduksi menggunakan episteme kritis-holistik guna mendapatkan insight dan interpretasi yang utuh. Dengan demikian, positioning kesehatan reproduksi berdiri tegak kokoh sebagai keilmuan yang multi-disiplin. Ia harus membuka dirinya terhadap ilmu-ilmu lainnya sebagai perkakas-perkakas ilmiah penting dalam penyelesaian masalah.
Pada aras praksis, kesehatan reproduksi diarahkan pada konteks-konteks dimana permasalahan itu terjadi. Klaim-klaim normatif yang banyak digunakan selama ini sedapat mungkin dikurangi justifikasinya dengan memahami konteks-konteks lokal. Melalui pendekatan kritis-holistik dan tindakan yang mencerminkan lokalitas, keterandalan kesehatan reproduksi dalam meningkatkan kualitas kehidupan manusia menemukan bentuk yang sebenarnya.
Lebih lanjut, fakta epidemi HIV terhadap luasnya dampak geogerafis diuraikan dengan mengemukakan lokus kejadian HIV tidak hanya terjadi di wilayah perkotaan, akan tetapi sudah sampai pada wilayah pedesaan. Selain mobilitas penduduk yang memperantarai perluasan epidemik ini, aktivitas seks promoskuitas dikalangan remaja disinyalir menjadi penyebab-penyebab pergerakan virus HIV menembus wilayah yang jauh dari hiruk pikuk modernitas.
Lokus pedesaan sering identik dengan keterbatasan akses layanan kesehatan, rendahnya pengetahuan, dan keyakinan klenik masyarakat yang berujung pada praktek-praktek mistik. Dengan postur pedesaan seperti ini akan membuka kemungkinan besar terjadinya produksi dan reproduksi masalah baru dalam bentuknya yang lebih kompleks. Pengetahuan-pengetahuan yang beredar seputar AIDS dipahaminya dalam konteks mitos dan moralis. Implikasinya, penyakit ini dipandang sebagai penyakit sosial yang harus dihindari, bukan hanya penyakitnya akan tetapi orang yang mengidapnya.
Selain itu, populasi pedesaan dengan ikatan sosial yang kuat diantara masyarakat, sering menjadi alasan utama munculnya segregasi sosial terhadap pengidap HIV yang berujung pada tindakan-tindakan frustasi, malu, tidak percaya diri yang pada akhirnya mempengaruhi kualitas hidup mereka.
Saat para pengidap HIV dan AIDS mendapatkan tekanan sosial, secara natural mereka akan memberikan perlawanan dengan cara mereka sendiri. Fakta penularan HIV yang disengaja atas motif balas dendam adalah salah satu reaksi perlawanan para pengidap terhadap aksi-aksi anti sosial yang diperlihatkan oleh masyarakat. Bisa dibayangkan kalau motif ini terorganisir, epidemi HIV dan AIDS akan semakin meluas dan secara simultan mempengaruhi kualitas kesehatan reproduksi.
Beranjak dari analisis health-sociologist di atas, pengetahuan kesehatan reproduksi penting mendapatkan proses internalisasi yang mengakar kuat dalam diri individu dan masyarakat. Model sosialisasi pengetahuan dengan gaya komunikasi konvensional memerlukan evaluasi kritis menuju pelibatan masyarakat secara partisipatoris pada semua tahapan program pengendalian. Pelibatan partisipatoris mensyaratkan adanya kemampuan pemberdayaan masyarakat yang wajib dimiliki. Mendatangi masyarakat, mendengarkan mereka, dan membuka dialog-dialog sosial, serta memberi kesempatan yang luas bagi mereka untuk mendefinisikan masalahnya sendiri, sekaligus untuk menyelesaikan dengan cara mereka sendiri menjadi taktik-taktik handal yang perlu diterapkan oleh para stakeholders dan pemerhati kesehatan reproduksi.
Gambaran epidemi AIDS secara faktual di atas merupakan kasus yang digunakan untuk memberikan penjelasan alternatif tentang semesta kesehatan reproduksi. Mengapa masalah reproduksi manusia terus memunculkan deviasi-deviasi baru? Apakah kita tetap given dengan metodologi kespro yang tersedia? Apakah komunitas ilmiah pada bidang ini sudah sampai pada pertanyaan akhir hingga tidak lagi menemukan perpektif baru? Pertanyaan-pertanyaan ini mengantarkan penulis untuk memulai diskursus baru dalam format pemikiran embrionik, semata-mata merangsang lahirnya gagasan-gagasan progresif baru lainnya sebagai fitur-fitur utama konstruksi a new paradigm kesehatan reproduksi.
Kesimpulan
Kualitas kesehatan reproduksi manusia terus diupayakan peningkatannya untuk mendukung berlangsungnya siklus kehidupan manusia lebih baik. Salah satu tantangan kespro saat ini adalah masih tingginya angka kematian ibu dan anak yang menjadi salah satu indikator Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2030 (AKA 26/1000 kelahiran, AKI 306/100.000 kelahiran). Bangsa kita sampai hari ini mengalami kesulitan dalam mencapai indikator tersebut. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu refleksi mendalam guna mendapatkan inovasi-inovasi yang lebih masuk akal.
Epidemi AIDS yang dijadikan sebagai fenomena refleksif membedah kesehatan reproduksi paling tidak memberikan beberapa pemikiran baru tentang pemahaman kritis kespro, metode analisis, dan teknik pendekatan-pendekatan yang relevan. Tiga anatomi pemikiran ini berujung pada lahirnya Paradigma Baru Kespro yang diharapkan menjadi arahan ilmiah untuk kepentingan perubahan sosial.
Pemahaman kritis kespro menempatkan realitas kespro di masyarakat adalah bentukan rezim-rezim dominan yang tidak lepas dari kepentingan praktis. Ada rezim wacana, rezim medis, rezim politik, rezim kultural, rezim teknologi yang satu sama lainnya berkontestasi dalam memenangkan dominasi. Dalam konteks ini, kespro harus mampu melakukan negosiasi yang produktif agar mampu memanfaatkan modalitas rezim dominan yang tepat dalam mengatasi sejumlah problematika.
Cara pandang ontologis di atas memberikan implikasi terhadap metode analisis masalah kespro yang berupaya membongkar kepentingan-kepentingan dominan yang menyebabkan individu dan masyarakat mengalami ketertinggalan. Melalui metode analisis kritis ini, proses identifikasi masalah kespro menemukan akar penyebab mendasarnya sebagai titik tolak yang handal dalam berbagi upaya perbaikan.
Penyebab mendasar kespro dalam analisis kritis bukan terletak pada kelainan organ-organ reproduksi, akan tetapi berasal dari perangkat-perangkat interaksi sosial yang timpang. Oleh karena perangkat interaksi sosial inheren dalam masyarakat, maka pendekatan aksional yang masuk akal adalah pelibatan masyarakat secara partisipatoris untuk menolong dirinya sendiri.
Mudah-mudahan pemikiran ini memberikan manfaat untuk kita semuanya dan Saya ucapkan selamat mengikuti KONAS IAKMI XIII, semoga kegiatan ini menginspirasi kita semua dalam melakukan karya-karya nyata untuk perubahan masyarakat yang lebih sejahtera, amin.